Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Cerita Midha

Anak Buruh Tani Jadi Dosen Oleh : Nur Fitriani Ramidha Nafisya Akbar, ya, itulah nama seorang gadis cantik jelita yang berasal dari sebuah desa. Dia merupakan anak dari pasangan suami istri yang bekerja sebagai buruh tani. Fisya, begitu biasanya ia dipanggil, merupakan anak yang selalu bersemangat dalam menuntut ilmu. Meskipun berasal dari keluarga yang kurang mampu, tidak menyurutkan semangatnya dalam meraih cita-cita. Saat ini, Nafisya sedang menempuh perkuliahan di Universitas Indonesia. Suatu hari, setelah pembelajaran di kelas selesai, Nafisya segera beranjak pulang. Ia menenteng tas berwarna coklat yang dibeli di pasar dekat rumahnya minggu lalu. Baru saja Nafisya keluar dari kelas, ia dipanggil kembali untuk menuju ke ruang dekan. “Fisya, kamu belum membayar uang semester ya? Kalau kamu tidak membayar, nanti tidak boleh ikut ujian”, kata Pak Dekan sesampainya Nafisya di ruangan. Nafisya menjawab dengan kebingungan, “Tapi Pak, saya belum punya uang untuk membayar, tolon...

Sebuah Celoteh

Sedulur Papat, Limo Pancer “...Marmarti yang mengasuh saudara-saudaraku menggelorakan Amarah bagaikan api, merabuk Lawwamah bagaikan tanah, menjernihkan Supiah bagaikan air, dan mengembuskan Mutmainnah bagaikan napas.” Di desa ini aku memiliki sedulur papat, limo pancer adalah aku, karena akulah yang merasa dan mensubyeki hidupku. Sedulur papatku juga subyek atas hidup mereka masing-masing, namun dalam hal ini aku membuat prinsip hidup merekalah sedulur papatku yang mungkin bisa bekerja sama membangun hidup makrokosmosku. Mereka adalah : 1)      Didin, selaku Amarah, dia suka dengan Rahwana, dia itu orangnya kaya raya dan suka dengan kemewahan, dia juga suka dengan kesejahteraan dan kemakmuran. Dia itu cocok sebagai Amarah, sehingga aku perlu mengelolanya agar dia bisa jadi api yang menggeloran dan menghangatkan semua orang. 2)      Herpin, selaku Lawwamah, dia suka dengan Kumbakarna, dia itu orangnya suka makan dan pesta kebersamaan, ...

Pidato Kemerdekaan

INDONESIA? Assalamualaikum wr. wb Pekik Merdeka : Merdeka! (Tangan diangkat setinggi bahu sambil dikepalkan) Saudara-saudara sebangsa dan setanah air Salam sejahtera dan salam merdeka untuk kita semua! “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya,” pesan Bung Karno pada salah satu pidatonya. Ya, masuk akal memang isi dari pesan Bung Karno tersebut. Kewibaan, kebesaran, dan kehormatan suatu negara linear dengan sikapnya terhadap pahlawan negara. Seperti budaya Indonesia, yang mana kaum muda lebih hormat kepada orang tua atau kaum tua. Maka sikap menghargai pahlawan merupakan implementasi dari kebudayaan Indonesia itu sendiri. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Para pahlawan telah berjuang mati-matian, mengorbankan waktu, tenaga, harta benda, bahkan nyawa mereka demi merebut kemerdekaan. Siang malam adalah waktu perjuangan, hujan mortir adalah makanan keseharian, desingan peluru adalah musik harian, ceceran darah pemandangan kese...

Merayakan Hujan

Anak Hujan-hujanan Saat guyuran hujan datang anak-anak tak sabar berhamburan Menerobos hujan dan menari kegirangan menyukuri rizki Tuhan Anak hujan-hujanan Janganlah dilarang apalagi dikekang Kegembiraannya terpuaskan dengan hujan-hujanan Begitu riang, menari, memutar badan, menikmati anugerah Tuhan Anak hujan-hujanan Biarlah menikmati sensasi basah-basahan atau sekadar duduk termangu di bawah tetesannya Mengamati kodok bernyanyi dan lalat kedinginan Bisa jadi satu diantara mereka tumbuh besar dan menjadi penyair yang akan menyadarkanmu bahwa kegembiraan hujan hanya ada di waktu kecil ketika hujan-hujanan Karena setelah dewasa kau dan mereka akan memaki hujan, ketika kehujanan PWT, 22/11/2016

Sebentuk Puisi Hari Ayah

Air Mata Bisu Ayahku Karya : Masuzi Fajar menyingsing Kau panggul cangkul seraya merapihkan caping Seseruput demi seseruputan kopi legam penghangat badan kau hajar tuk bekal ke sawah ladang Cericit pipit menari di atas pepadian menemani ayunan kakimu menyibak petak persawahan             Embun yang membasahi setiap helai daun             menyapa betis kokohmu menuju ladang tempatmu berjuang             Fajar yang merekah itu             Membuatmu mempercepat langkah menuju sawah             Bekerja mencangkul tanah menyiangi rerumputan basah Ayah…. Kau sosok segalanya bagiku Laparmu adalah kenyangku Sakitmu adalah senangku saat kau pangul di pundakmu Ayah…. Suatu malam itu kumend...

Puisi Lomba Cimanuk Indramayu

Orkestra Hujan Oleh : Masuzi Ramadhani Kricik…kricik…kricik…kricik…kricik…. Gemericik air menuruni genting di malam syahdu nan merdu ini Syahdu karena begitu merdu konser hujan ini Merdu karena begitu syahdu orkestra hujan di malam ini Gemericik air menuruni genting menghunjam keras ke bawah menghancurkan batu kedholiman meluluhkan kerikil kemunafikan hingga menjadi tanah iman yang tertancap kuat di kalbu setiap insan Gemericik air menuruni genting menginsafkan kita akan pesan dari Sang Rahiim tentang cinta kasih yang ditebar tak pilih kasih pada siapapun yang tersayang Gemericik air menuruni genting membawa kehidupan bagi makhluk yang kehausan makhluk-makhluk yang haus akan kasih sayang-Nya makhluk-makhluk yang haus akan belaian-Nya makhluk-makhluk yang haus akan keridhoan-Nya Gemericik air menuruni genting Pertanda, Cinta Tuhan tak henti-hentinya ditebar Sayang Tuhan tak henti-hentinya disebar Kasih Tuhan tak habis-habisnya ...

Azimat Puan

Azimat Puan “Tuan, tak seharusnya Tuan berlaku demikian. Hanya berdasar prasangka langsung Tuan layangkan nista pada diri seorang kekasih Tuan!” // “Sedangkan, Anda juga Puan, milikilah beribu-ribu ampun juga sabar tiada terkira dalam menghadapi Tuan, Puan lebih menyamudera dan penuh kelembutan. Tuan hanya ingin merengkuh kehangatan Anda, prasangka dan pandangan yang salah dari Tuan, mohonlah diampunkan. Sebab, Puan menyamudera.” ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ “Puan, engkau samudera dimana Tuan akan meregukmu dalam penyatuan rasa demi rasa yang tiada terkata. Puan, engkaulah lembah manah dimana Tuan berlabuh menyeka peluh dalam letih tubuh setelah seharian beradu debu. Puan, sabarkan dirimu, begitulah nasehat pendahulu, demi utuhnya bahtera yang hampir rubuh. Puan, terimalah Tuan beserta kekurangannya, landasi tiap pengabdian itu dengan rasa keikhlasan dan kesabaran. Maka, semogalah Puan segera merengkuh kedamaian tiada terkira.” ≈...

Kidung Hatiku

Kidung Hatiku Senin, 16-12-2019 ~Masuzi Beragam…. beragam peristiwa tergelar kejadian terjalankan momentum tercipta di bumi mayapada             Menelisik kedalaman sukma             menanya sesiapa dia?             untuk apa dia ada?             kemana dia akan moksa? Menjelajah jiwa memberkati nyawa mensyukuri raga sebab…. dia tinggal memakainya sedang…. yang berkecamuk di pikiran tentang hal ihwal pertanyaan yang membombardir sukma, mencerca jiwa, dan menyiksa pikirannya. Mokshaw!!!