Cerita Midha


Anak Buruh Tani Jadi Dosen
Oleh : Nur Fitriani Ramidha
Nafisya Akbar, ya, itulah nama seorang gadis cantik jelita yang berasal dari sebuah desa. Dia merupakan anak dari pasangan suami istri yang bekerja sebagai buruh tani. Fisya, begitu biasanya ia dipanggil, merupakan anak yang selalu bersemangat dalam menuntut ilmu. Meskipun berasal dari keluarga yang kurang mampu, tidak menyurutkan semangatnya dalam meraih cita-cita. Saat ini, Nafisya sedang menempuh perkuliahan di Universitas Indonesia.
Suatu hari, setelah pembelajaran di kelas selesai, Nafisya segera beranjak pulang. Ia menenteng tas berwarna coklat yang dibeli di pasar dekat rumahnya minggu lalu. Baru saja Nafisya keluar dari kelas, ia dipanggil kembali untuk menuju ke ruang dekan. “Fisya, kamu belum membayar uang semester ya? Kalau kamu tidak membayar, nanti tidak boleh ikut ujian”, kata Pak Dekan sesampainya Nafisya di ruangan. Nafisya menjawab dengan kebingungan, “Tapi Pak, saya belum punya uang untuk membayar, tolong beri saya waktu untuk mengumpulkan uang!” Pak Dekan berkata, “Baiklah, kamu saya beri waktu satu bulan untuk mengumpulkan uang”. “Baik Pak, terima kasih sudah memberi saya waktu”, jawab Nafisya. “Iya sama-sama”, sahut Pak dekan.
Sesampainya di rumah, Nafisya memberitahu kedua orang tuanya, bahwa ia disuruh untuk membayar uang semester. Pada saat itu, orang tua Nafisya hanya mempunyai uang 100 ribu rupiah. Sedangkan pembayaran uang semester itu satu juta rupiah. Nafisya dan kedua orang tuanya kebingungan bagaimana cara untuk mengumpulkan uang sebanyak itu hanya dalam waktu satu bulan.
Orang tua Nafisya bekerja keras untuk mengumpulkan uang. Nafisya merasa kasihan kepada orang tuanya. Akhirnya dia mempunya ide untuk membantu kedua orang tuanya mencari uang, yaitu dengan berjualan kue keliling kompleks maupun di kampus. Ia tidak pernah merasa malu untuk berjualan. Ia sangat tekun dalam berjualan sehingga hampir setiap hari kue-kuenya terjual habis. Pada suatu hari, Nafisya mendapat pesanan kue sebanyak 100 biji, hal itu membuatnya sangat senang. Ia membuat pesanan kue itu dengan riang gembira dan akhirnya kue-kue pesanan itu siap diantarkan. Akan tetapi, pada saat Nafisya mengantarkan pesanan kue itu, si pemesan membatalkan pesanan dan tidak mau membeli kuenya. Nafisya terpukul sekali dengan kejadian yang menimpanya itu. Ia melanjutkan perjalanan dengan langkah gontai sambil menangis. Ia tidak tau harus bagaimana lagi ia menjual kue-kuenya itu. Padahal uang dari pesanan kue itu mau digunakan untuk membayar uang semester.
Nafisya menghentikan perjalanannya saat terdengar kumandang adzan Dhuhur. Ia berhenti di sebuah masjid untuk menunaikan sholat Dhuhur dan berdoa kepada Allah agar diberi jalan keluar. Setelah selesai sholat Dhuhur ia melanjutkan perjalanannya menuju kampus. Hampir sampai di kampus, Nafisya dihentikan seseorang. “Adek berjualan kue apa?” tanya orang itu. “Iya, tadinya kue-kue ini ada yang memesan, tetapi setelah saya antar ke rumah pemesan, dia tidak mau membeli kue-kue ini”, jawab Nafisya. “Kalau begitu, Ibu bisa beli semua kue-kue itu?” tanya orang itu lagi. “Boleh boleh, saya sangat senang Ibu membeli kue saya ini, terima kasih ibu”, jawab Nafisya seraya membungkus kue-kuenya yang dibeli. “Iya, sama-sama”, jawab ibu itu.
Nafisya menuju ke kampus dan langsung membayar uang semesternya. Akhirnya, Nafisya bisa mengikuti ujian di kampusnya. Waktu ujian pun tiba, Nafisya selalu belajar dengan tekun tiap malam dan berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan.
Beberapa minggu setelah ujian, Nafisya berangkat ke kampus seperti biasa. Kini ia juga sambil berjualan di kampus. Saat tiba di kampus, ia diberitahu temannya kalau ia dipanggil ke ruang dekan. Nafisya ketakutan sepanjang jalan menuju ruang dekan. Sesampainya di ruang dekan, Nafisya bertanya, “Bapak memanggil saya?” Pak Dekan pun menjawab, “Iya, benar Fisya. Saya memanggil kamu karena saya mau memberitahu kalau nilai ujian kamu tertinggi di kampus ini dan kamu akan mendapatkan beasiswa hingga semester akhir nanti. Selamat ya Fisya, Bapak bangga padamu.” Nafisya sangat terkejut, ia bertanya seolah-olah tidak percaya, “Apa benar itu semuanya pak?” “Iya, benar”, jawab Pak Dekan. “Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak”, jawab Nafisya.
Beberapa tahun Nafisya kuliah dengan beasiswa karena prestasi yang telah diraihnya. Hingga akhirnya ia menjadi sarjana dan bekerja menjadi dosen. Kedua orang tua Nafisya sangat senang atas kesuksesan anaknya. Nafisya juga senang karena dapat menjunjung derajat orang tua. Ingat, kita harus semangat mengejar cita-cita dengan tekun dan selalu berdoa kepada Allah SWT.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lenggah Kursi

Alunan Merdu Mendayu-dayu

2018 to 2019