Lenggah Kursi
#Hasbunallah
wani’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan
Allah adalah sebaik-baik Penolong dan sebaik-baik Pelindung kami.”
“Dan kesejahteraan
semoga dilimpahkan, pada hari aku lahir, pada hari aku meninggal dan pada hari
aku dibangkitkan hidup kembali.”
===============================================================================
Teriring gemuruh guntur serta gemericik
hujan, malam ini, Syukur Alhamdulillah tersampaikan kehadirat Allah swt, sebab
atas anugerah kasih, anugerah sayang dan anugerah cinta-Nya tergelar kehidupan
di dunia dan alam raya ini. Tak terkecuali sanjungan dan shalawat-salam atas
rasa rindu yang teramat dalam dan membuncah di dalam dada setiap saat, kepada
Beliau Baginda Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah saw., sosok paripurna, sosok
idola, seorang kekasih-Nya yang telah mengenalkan kita pada anugerah Islam yang
penuh suka cita, Islam yang penuh cinta kasih serta mengantarkan kita untuk
menjadi insan Rahmatan lil ‘alamin, dengan segala upaya mengikuti apa yang
diperintahkan dan apa yang dilarang oleh Allah swt, Sang Maha Kekasihnya,
sehingga di hari penghabisan kelak, syafaat Beliau Kanjeng Nabi Muhammad saw
kita nantikan agar beroleh ridho dari Allah swt.
Teriring gemuruh guntur yang semakin
menjadi serta gemericik deras hujan, malam ini, terkisah sebuah cerita 21 tahun
yang lampau, sepasang kekasih yang saling melengkapi satu sama lain,
mendapatkan amanah terbesar di dunia ini. Terlahirlah bayi laki-laki dalam
keadaan sehat wal afiat tanpa suatu cacat, sebagai intan permata buah hati
tercinta. Lahirnya bayi laki-laki itu bertepatan di bulan suci Ramadhan,
sehingga oleh sang bapak diabadikanlah nama bulan suci itu sebagai prasasti
hidup yang selalu mengiringi langkahnya, dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun.
Sungguh, suatu anugerah yang luar biasa bagi bapak ibu muda itu, mendapatkan
seorang buah hati anggota keluarga baru di bulan suci Ramadhan. Maka, doa-doa
pun senantiasa mengiringi sepanjang kelahiran, proses adzan oleh sang bapak,
hingga hari-hari awalnya di kehidupan dunia ini.
Bayi laki-laki itu, adalah aku, Muhammad
Fauzi Ramadhani. Sebuah nama bertabur doa, keberuntungan, pengharapan, serta
mimpi yang ditanamkan oleh kedua orang tuaku. Berdasarkan penanggalan, kelahiranku
adalah pada tanggal 8 Januari 1998, hari Kamis di kalender Masehi; tanggal 9
Poso 1930, hari Kamis Pon di kalender Jawa; serta tanggal 9 Ramadhan 1418, hari
Qamis di kalender Hijriah.
Sebuah kesyukuran atas kelahiranku ke
dunia ini, maka di hari perulangantahun ini, kudawamkan doa seperti yang pernah
dilakukan Kanjeng Nabi Isa as. atas kelahirannya. Begitupun, kudawamkan doa
kepada Tuhan kekasihku, “semoga kesejahteraan dilimpahkan, di hari
kelahiranku, di hari kematianku, dan di hari kebangkitanku kelak untuk menuju
dan menyatu kembali dengan-Nya.” Syukur yang teramat banyak senantiasa
terucap, terima kasih yang teramat dalam kusampaikan kehadirat Allah swt,
karena telah mengirimku dan menempatkanku kepada sepasang tokoh idola hidupku,
sepasang sosok yang amat kucintai, sumber kasih sayang hidupku, yang sampai
detik ini tak kurang dan tak habis-habisnya kasih sayang beliau berdua berikan
kepadaku. Hingga tak mungkinlah lagi, tak berhargalah lagi harta benda macam
apapun itu, sebab oleh Allah swt. Kekasihku, harta yang paling, paling, paling
berharga telah mewujud dalam sepasang tokoh idola hidupku itu, bapak ibuku, dan
semoga senantiasa aku sanggup membalas cinta kasihnya, meskipun teramat
mustahil itu, tapi sesulit apapun itu, sekecil apapun itu, semoga sentiasa
istiqomah selalu.
Perjalananku, seperti juga perjalanan
yang dialami orang lain, penuh lika-liku dan apapun itu yang sentiasa
mengiringi dari buaian hingga kini dan bahkan hingga kembali nanti. Pencarian
demi pencarian kulalui, bertemu fulan, bertemu fulin kutempuh, hingga kini dan
bahkan hingga kembali nanti. Sungguh yang kini kusadari dan mulai muncul dalam
benak terdalam kesadaranku, bahwa hidup ini adalah tentang rasa syukur tiada
tara yang sudah lazimnya wajib dilakukan terus-menerus. Mengapa terus-menerus?
Sebab, tanpa rasa syukur, kekecewaan akan sangat sering menampakkan wajahnya
yang menakutkan bagi iman, kemarahan akan sering datang dan sangat mengerikan
bagi akhlak, serta keputusasaan yang seringkali membahayakan keyakinan. Rasa syukur
atas dipilihnya aku untuk terlahir dari rahim seorang ibu yang sangat cantik
jelita rupa dan hatinya, rasa syukur atas terpilihnya aku yang sangat beruntung
ini sebagai buah hati dari bapak yang menawan, rupawan serta penuh ketulusan.
Sungguh kesyukuran itu adalah sebentuk Kasih Sayang Allah-ku padaku sehingga
Puja-puji syukur serta segala Pujian hanya dan bagi-Nya saja tiada suatu yang
lain.
Hujan mereda dan guntur kini telah
melanjutkan istirahat malamnya setelah bertugas tadi. Kini sayup-sayup radio
seorang kakek, tetangga sebelah rumah indekosku, berbunyi. Suara-suara entok
peliharaan kakek itupun melongos-longos suaranya, mungkin merayakan
kegembiraannya atas hujan yang mengguyur malam ini, lantas diperulangantahun
kelahiranku kini, mempunyai makna fundamental bagi kehidupan dan perikehidupan
yang lalu, kini dan masa yang mendatang. Hasil-hasil pencarianku, bahwa di usia
21 (selikur, Jw.) ini, memiliki kepanjangan “seneng linggih kursi”. Penafsiranku
terkait hal itu adalah pada usia sekarang semestinya aku sudah memiliki
kemapanan sikap, kematangan pola pikir, dan kemantapan perbuatan agar kutemukan
‘kursi’ kebermanfaatan hidupku, kulakukan pemenuhan penghidupan berdasarkan
‘kursi’ kecenderunganku yang mantab serta tidak bertentangan dengan aturan agamaku.
“Linggih kursi/ lenggah kursi” merupakan titik loncatan kehidupanku
kini, sebagai penanda atas sikap apa yang perlu diambil setelah berjalannya
waktu kini, serta sebagai pengingat atas pengalaman-pengalaman dari awal
kelahiran hingga kini. Sebab, pepatah lama mengatakan, 20 tahun awal
kehidupanmu adalah tahap pertama ‘penanaman’ nilai-nilai kehidupan yang telah
dilakukan dengan sangat luar biasa oleh kedua orang tua dan lingkungan.
Sedangkan 20 tahun selanjutnya adalah waktu terbaik kedua untuk menanam serta
mengaplikasikan nilai-nilai kehidupan yang benar-benar, yang baik-baik, dan
yang indah-indah secara mandiri dan bertanggungjawab, sehingga bisa membawa
kebermanfaatan bagi diri pribadi, keluarga, serta lingkungan dimanapun berada.
Semoga pengharapan sentiasa menggemuruhkan keistiqomahan dalam laku yang
bermanfaat. Aamiin
03:00 WIB
08-01-2019


Komentar
Posting Komentar