Azimat Puan
Azimat Puan
“Tuan, tak
seharusnya Tuan berlaku demikian. Hanya berdasar prasangka langsung Tuan
layangkan nista pada diri seorang kekasih Tuan!”
//
“Sedangkan, Anda
juga Puan, milikilah beribu-ribu ampun juga sabar tiada terkira dalam
menghadapi Tuan, Puan lebih menyamudera dan penuh kelembutan. Tuan hanya ingin
merengkuh kehangatan Anda, prasangka dan pandangan yang salah dari Tuan,
mohonlah diampunkan. Sebab, Puan menyamudera.”
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Puan, engkau
samudera dimana Tuan akan meregukmu dalam penyatuan rasa demi rasa yang tiada
terkata. Puan, engkaulah lembah manah dimana Tuan berlabuh menyeka peluh dalam
letih tubuh setelah seharian beradu debu. Puan, sabarkan dirimu, begitulah
nasehat pendahulu, demi utuhnya bahtera yang hampir rubuh. Puan, terimalah Tuan
beserta kekurangannya, landasi tiap pengabdian itu dengan rasa keikhlasan dan
kesabaran. Maka, semogalah Puan segera merengkuh kedamaian tiada terkira.”
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Puan, engkaulah
misteri dan rahasia bagi Tuan, jalan bagi Tuan untuk mengungkapkan
sebenar-benarnya arti kehidupan. Begitu payahnya Tuan menjalani kehidupannya.
Begitu susah payahnya ia. Namun, berkat Puan, yang memang diciptakan sebagai
pelengkap hidup Tuan. Puan mengandung bermacam misteri pun rahasia yang sulit
diungkap. Bahkan Tuan harus jatuh bangun mengungkapkannya. Begitulah, makna
kehadiran Puan di dunia ini yang diciptakan oleh Sang Maha Kuasa. Puan, berilah
kesempatan Tuan tuk merengkuhmu, biarpun kini Tuan sedang berada di dalam
prasangka buruknya tentang Puan, tetapi samudera tetap samudera yang akan
menenggelamkan keburukan-keburukan Tuan.”
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Puan,
sebagaimana yang telah tersabdakan oleh Sang Utusan, penyebutanmu sebanyak tiga
kali sedangkan untuk kaum Tuan hanya sekali, mengandung arti dan mengesahkan
bahwa engkaulah memang samudera Puan, yang mana Tuan akan beroleh kesadaran
tentang maknawi hidup ini. Puan, seperti sabda itulah dalam tulisan ini aku
menyapamu lebih panjang daripada menyapa Tuan, yang hanya ada di awal tulisan.
Puan, harapanku hanya padamu, mohonlah engkau rengkuh kembali Tuan dengan hati
samuderamu, engkau sirami tandusnya prasangka buruk Tuan dengan mata air
kelembutanmu, dengan doa-doamu. Seraya bermohon kedamaian melingkupi bahtera
tuk melanjutkan perjalanan kehidupan.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Puan, apa yang
menjadi permata berharga dari seorang wanita yang tengah gelisah pada saat usia
telah beranjak mendewasa? Tidak lain dan tidak bukan ialah permata ‘rasa malu’
terhadap segala apa tindak tanduknya, sehingga tidak menjerumuskannya pada
kondisi memalukan diri sendiri. Puan, sebagai wanita, memperhitungkan secara
matang gerak-gerik di tiap detik adalah suatu keniscayaan, apakah sesuai
ataukah tidak sesuai. Sebab, itulah azimat milik Puan yang pada saatnya nanti
akan ditebus oleh lelaki sejati Puan dalam merajut mahligai kehidupan. Baik
buruknya, sila Puan nyatakan berdasarkan sikap, tingkah, dan perbuatan Puan di
masa kekinian. Puan, permatakanlah kehidupan.”
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Komentar
Posting Komentar