Sebuah Celoteh
Sedulur Papat, Limo Pancer
“...Marmarti yang mengasuh saudara-saudaraku
menggelorakan Amarah bagaikan api, merabuk Lawwamah bagaikan tanah,
menjernihkan Supiah bagaikan air, dan mengembuskan Mutmainnah bagaikan napas.”
Di
desa ini aku memiliki sedulur papat, limo pancer adalah aku, karena akulah yang
merasa dan mensubyeki hidupku. Sedulur papatku juga subyek atas hidup mereka
masing-masing, namun dalam hal ini aku membuat prinsip hidup merekalah sedulur
papatku yang mungkin bisa bekerja sama membangun hidup makrokosmosku.
Mereka
adalah :
1)
Didin,
selaku Amarah, dia suka dengan Rahwana, dia itu orangnya kaya raya dan suka
dengan kemewahan, dia juga suka dengan kesejahteraan dan kemakmuran. Dia itu
cocok sebagai Amarah, sehingga aku perlu mengelolanya agar dia bisa jadi api
yang menggeloran dan menghangatkan semua orang.
2)
Herpin,
selaku Lawwamah, dia suka dengan Kumbakarna, dia itu orangnya suka makan dan
pesta kebersamaan, dia seorang pelestari silaturohim bersama segenap kaum dan
orang dan makhluk. Dia sudah sangat berpengalaman dalam bergaul dengan orang,
sehingga aku perlu mengelolanya untuk meningkatkan komunikasi dan perhubungan
dia dengan orang lain, akan kurabuki dia agar bisa menumbuhkan cinta kasih di
tanah taqwanya.
3)
Septian,
selaku Mutmainnah, dia suka dengan Wibisana, dia itu orangnya pendiam tapi
menghanyutkan, dia itu mampu memberikan argumen-argumen yang menakjubkan, dia
seorang pemikir andal, dan aku perlu meningkatkannya agar bisa menjadi embusan
angin yang mampu menyamankan semua orang.
4)
Agus,
selaku Supiah, dia suka hal-hal yang jenaka, dia suka humor dan suka
menggoda-goda, dia juga suka dengan Sarpakenaka, aku perlu meningkatkannya agar
ia mau jernih semacam air yang segar untuk minum banyak orang.
Ya,
itulah sedulur papatku, dalam tulisan ini aku menulis ini sebagai rencana
jangka panjang untuk bisa membangun desa. Bismillah bisa!!!
Komentar
Posting Komentar