Momen Pergerakan dan Mempergerakkan Pemuda Desa
(Momen Pergerakan dan Mempergerakkan Pemuda Desa)
Japanan, 13 Agustus 2023
Saya sungguh sangat tertarik dengan idiom dalam bahasa Jawa, "kebo nyusu gudel". Pemahaman yang saya dapat dari idiom itu sampai sejauh ini adalah nuansa arogansi dan gengsi serta tensi, bagi generasi tua yang ogah bahkan cenderung amit-amit kalau misalnya ia lebih kalah daripada generasi muda.
Hal ini disebabkan banyak faktor, seperti misalnya menganggap bahwa yang tua sudah sangat berpengalaman dalam hidup, sudah mengenyam asam pahit getirnya kehidupan, serta dilain sisi menganggap bahwa yang muda harus selalu diarahkan, masih harus dibimbing, dan tidak berkompeten dalam kehidupan.
Nuansa ini tidak seluruhnya benar, tapi yang selama ini terjadi mayoritasnya seperti itu. "Kebo nyusu gudel", mengumpamakan orang tua yang harus menimba ilmu dari yang muda, dianggap tabu dan tidak sopan. Padahal sesungguhnya ketika kita belajar dari yang lebih muda - misalnya dengan mempelajari proses tumbuh kembang pikiran, fisik, dan ide-idenya - bisa saja kita temukan banyak insight baru yang cenderung lebih konstruktif dibandingkan dengan kita yang tua merasa lebih daripada yang muda.
Hal ini tergantung juga dengan wilayah lokalitas masing-masing individu, ketika memang ekosistem yang terbangun memiliki kecenderungan untuk meremeh-remehkan generasi muda, maka jangan heran kalau akan muncul skeptis bahkan sampai taraf apatis dari generasi muda ke generasi tua.
Hal ini sesungguhnya, pengalaman paling pribadi yang pastinya terbatas dari segi pengetahuan, pengalaman, dan juga kebijaksanaan hidup. Sehingga cenderung ke penafsiran dan persepsi subyektif.
Inilah yang kemudian memunculkan, barangkali nuansa "kebo nyusu gudel" tadi harus dicari tandingan nuansa lainnya. Misalnya dengan membalik mainstream pemikiran yang selama ini terjadi di masyarakat, yaitu generasi tua tidak perlu lagi merasa gengsi dan juga tersinggung jika ada anak muda yang bisa lebih unggul dibandingkan dengan dirinya, generasi tua juga tidak boleh selalu mengunggulkan pengalaman yang telah ia raih dengan mengecilkan potensi generasi muda saat ini, selain itu generasi tua semestinya melihat bahwa setiap anak akan diasuh oleh zamannya, yang pasti sangat berlainan dengan zaman dimana dirinya berada dulu.
Oleh karena itu, saya coba tawarkan suatu sudut pandang agar kita senantiasa relevan dengan kenyataan kehidupan, bahwa yang terutama dalam hidup ini ialah menjadikan kemampuan belajar sepanjang hayat, belajar kepada siapapun agar bisa tercapai keberlanjutan ekosistem hidup manusia yang lebih meningkat dan barokah.

Komentar
Posting Komentar