Sepucuk Surat

Kepada yth.

Saudara/i Nurani

di tempat

Sepucuk Surat

Suratku ini….

kusampaikan untuk diriku

Aku tak tahu apakah surat ini

resmi atau tidak?

Aku juga tak tahu apakah

wajib kubalas atau tidak?

Aku hanya ingin suratku sampai

ke hatiku

Aku hanya tahu jika suratku

harus tersampaikan kepadaku

Aku hanya ingin diriku tahu

dan juga mengerti

Bahwa suratku ini hanya untukku

sendiri

          Inilah sepucuk suratku

          Assalamualaikum wr.wb.

          Yth. Aku sebagai penerima surat

          di tempat

          Sudah lama aku memendam perasaan ini. Aku lupa bagaimana cara mengungkapkan perasaan. Melalui lisankah? atau mata? atau telinga? atau tangan? ataukah kaki?

Sungguh aku lupa…lupa sama sekali!

          Maafkan aku, diriku! Saat kau “terbang” kearah penggapaian, aku tak mampu menjadi pilot professional. Saat kau meluncur lewat “rel” perjuangan. Aku tak dapat menjadi masinis yang baik. Saat kau “terombang-ambing” di dalam gelombang kehidupan. Aku tak sangguo menjadi nahkoda yang handal.

          Sobatku….

          Yang bersemayam di relung

hatiku,

yang tinggal di lubuk hati terdalamku.

Itulah suratku

Nurani….

Itulah namamu

Menggema, menggelegar, menggaung,

dan menyebar menyeramkan di seluruh jiwaku

Aku takut kehilanganmu

Aku sedih akan lupa kepadamu

Aku nyesal tak menghiraukan

Aku sengsara tak menurutimu

Aku tergoyah tanpamu

Kau….

Nurani, hidupkan jiwa yang mati

Nyalakan nyali saat layu

Bunyikan kalam Tuhan dalam hati

Bisikkan kebaikan dalam jiwa

Sembunyikan kejahatan di bawah kebenaran iman

Aku akan bebas, tanpa kejahatan

Namun, kebebasanku itu terbatas

Terbatas seberapa kuat iman mengikatku

Mengikat agar aku tak lari ke medan penghancuran.

 

Re-writing : Jombang, 2 April 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lenggah Kursi

Alunan Merdu Mendayu-dayu

2018 to 2019