Aku dan Perasaanku

          Namaku Mutia, aku baru sebulan pindah di kota ini. Awalnya aku lahir dan dibesarkan di Surabaya. Namun, karena papaku ditugaskan di kota ini, terpaksa aku sekeluarga harus pindah. Kotaku berada di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Siang malam deru mesin pabrik dan kendaraan selalu menemani. Tak berhenti, semuanya mencari keuntungan dengan kesibukan.

          Aku bersekolah di SMP SUka Jaya 01 Jakarta. Walaupun baru sebulan, aku sudah mendapat sohib akrab. Dia seorang nasrani, namanya Tiara. Tiara bukan saja teman sekelasku, tapi dia juga tetangga di kompleks perumahanku.

          “Permisi…Mutianya ada?” kata Tiara sambil menekan tombol ‘bel’.

          “Ya, tunggu sebentar!” teriakku dari dalam. “Eh…Tiara, silakan masuk!” “Terima kasih, Mutia”, jawab Tiara sembari masuk ke dalam rumahku.

          “Mutia ayo kita main ke rumah teman!” pinta Tiara dengan sedikit memaksa.

          Aku sebenarnya masih malu untuk bertemu teman-teman di kompleksku ini. Apalagi bertemu Johan. Dia memang tampan dan aku sendiri tertarik dengan kepribadiannya. Namun, aku takut jika rasa yang kumiliki ini tidak sama dengan Johan.

          “Tapi, Tiara, Aku masih malu. Kamu mengerti sedikit dong perasaanku! Aku kan masih beradaptasi dengan lingkungan disini, Tiara,” cetusku dengan nada tinggi.      “Mutia, kamu harus percaya aku itu mengerti perasaanmu. Tapi aku ingin mengajakmu untuk lebih mengenal warga sini,” ucap Tiara dengan halus.            “Baiklah, sebelumnya aku minta maaf ya atas sikapku tadi,” jawabku dengan tersenyum sambil memeluk Tiara.

          Aku dan Tiara berpamitan dengan kedua orang tuaku. Awalnya aku dan Tiara akan pergi ke rumah Lina, tapi berhubung Lina sedang berlibur kami akhirnya ke rumah Johan.

          “Tiara…Tiara, kamu mau buat aku ‘mati bisu’ ya?” teriakku sambil lari meniggalkan Tiara.

          “Mutia! Ada apa kamu ini, kita kan mau ke rumah Johan. Kenapa kamu malah lari Mutia?” teriak Tiara yang mengejarku sambil berusaha menarik tanganku.

          Aku pun terduduk di trotoar jalan. Kuhembuskan nafasku kuat-kuat, kemudian kuhirup lagi dalam-dalam. Tiara akhirnya duduk di sebelahku sambil memegang pundakku.

          “Mutia, maafkan aku ya! Ternyata aku tidak pernah mengerti perasaanmu,” ucap Tiara lirih sambil merangkulku.

          “Tiara, kamu tidak salah kok, aku yang salah. Ketika aku diajak untuk silaturahmi ke tetangga, aku enggan ikut dengan alas an masih malu, belum beradaptasi, apalah-apalah. Padahal hal itu akan mendekatkan hubunganku dengan sesama,” kataku sambil mengusap air mata.

          “Mutia, kamu harus yakin bahwa kami pasti bisa beradaptasi. Anggaplah semua warga disini adalah keluargamu. Dulu, saat pertama kali aku tinggal disini, aku juga mengalami hal yang sama kayak kamu. Bahkan, aku dulu sampai dua bulan tinggal disini belum mendapatkan sohib akrab. Kamu harus bersyukur Mutia, baru tinggal sebulan tapi sudah punya,” cerita Tiara sambil terisak.

          Hatiku tersentuh dengan apa yang diceritakan Tiara, memang selama ini aku sangat penakut. Disaat anak lain telah bisa bergaul dengan lingkungannya, aku malah semakin menjauhi lingkungan. Aku pun menuruti saran Tiara untuk berkunjung ke rumah Johan. Johan memang orang yang mampu, tapi rumahnya terlihat sederhana. Dag…dig…dug…hatiku bergetar setelah masuk dari pintu gerbang rumah Johan.

          “Permisi, Assalamualaikum!!!” salamku dan Tiara hampir bersamaan.

          “Walaikumsalam, Eh Tiara dan Mutia. Silakan masuk!” sambut Johan ramah.

          Johan adalah anak dari Pak Subhan, guru honorer di salah satu sd negeri di Jakarta. Di rumah Johan yang sederhana itu, aku berkenalan lebih dalam dengan Johan. Lama-kelamaan, aku semakin intens berkomunikasi dengan Johan dan akhirnya aku pun menjalin asmara dengan Johan. Setap sore dia selalu mengajakku untuk bersepeda mengelilingi kompleks.

          Ternyata perasaanku tak bisa dibohongi dan tak bisa dikalahkan dengan rasa maluku. Aku yakin jika kita saling terbuka dengan sesama, kita pasti akan memetik hikmahnya. Selesai.

Jombang, Minggu, 16/06/2013


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lenggah Kursi

Alunan Merdu Mendayu-dayu

2018 to 2019