Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

Sepucuk Surat

Kepada yth. Saudara/i Nurani di tempat Sepucuk Surat Suratku ini…. kusampaikan untuk diriku Aku tak tahu apakah surat ini resmi atau tidak? Aku juga tak tahu apakah wajib kubalas atau tidak? Aku hanya ingin suratku sampai ke hatiku Aku hanya tahu jika suratku harus tersampaikan kepadaku Aku hanya ingin diriku tahu dan juga mengerti Bahwa suratku ini hanya untukku sendiri           Inilah sepucuk suratku           Assalamualaikum wr.wb.           Yth. Aku sebagai penerima surat           di tempat           Sudah lama aku memendam perasaan ini. Aku lupa bagaimana cara mengungkapkan perasaan. Melalui lisankah? atau mata? atau telinga? atau tangan? ataukah kaki? Sungguh aku lupa…lupa sama sekali!     ...

For Love

Haruskah kunyatakan cintaku? Agar kau dengar suara hatiku? Haruskah kulukis rasa sayangku? Haruskah kutulis semua kerinduanku? Agar kau sedikit saja mengerti Betapa aku : MENANTI CINTAMU! Selembar doa aku layangkan padamu Mengharap kau menemani hidupku Meski aku tahu Aku merasa tak mampu memilikimu Hanya lewat guratan kata Kuhaturkan segenap rasa Yang kupendam dalam puncak asmara Takkan hilang dalam hitungan masa Jika Tuhan mengizinkan Ijinkan aku menyayangimu Dalam derai tawa Dalam tangis air mata Ataupun Dalam cinta yang terpendam rahasia

Aku dan Perasaanku

          Namaku Mutia, aku baru sebulan pindah di kota ini. Awalnya aku lahir dan dibesarkan di Surabaya. Namun, karena papaku ditugaskan di kota ini, terpaksa aku sekeluarga harus pindah. Kotaku berada di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Siang malam deru mesin pabrik dan kendaraan selalu menemani. Tak berhenti, semuanya mencari keuntungan dengan kesibukan.           Aku bersekolah di SMP SUka Jaya 01 Jakarta. Walaupun baru sebulan, aku sudah mendapat sohib akrab. Dia seorang nasrani, namanya Tiara. Tiara bukan saja teman sekelasku, tapi dia juga tetangga di kompleks perumahanku.           “Permisi…Mutianya ada?” kata Tiara sambil menekan tombol ‘bel’.           “Ya, tunggu sebentar!” teriakku dari dalam. “Eh…Tiara, silakan masuk!” “Terima kasih, Mutia”, jawab Tiara sembari masuk ke dalam rumahku.     ...

Asmaradhana

Gambar
Asmaradhana.... Asmaradhana.... Pantas saja Asmara membara-bara sebab apinya dikobarkan tiada terkira Asmaradhana.... Asmaradhana.... Api Asmara tengah mencari peraduannya tengah menanti Jumbuhnya Rasa Dirasa pada Kekasihnya Duhai,  Asmaradhana.... Asmaradhana.... Kendalikanlah Dahana itu agar tidak membakarmu atau pun mendinginkanmu Asmaradhana.... Asmaradhana.... Tetkala membesar kau pasti kewalahan  tetkala mengecil akan kau rasakan kepiluan dan kehampaan : hidup tanpa sayang bersayang Asmaradhana.... Asmaradhana.... Jadikan ia pelita  untuk menggapai kekasihmu tercinta hingga jumbuh kepercayaan hingga tumbuh kecocokan untuk selanjutnya : kau Azzam -kan perjanjian suci : sehidup semati lantas, pahit manis hidup ini harus kau jalani berdua-duaan dengan Kekasihmu : Pilihan Tuhan Asmaradhana.... Asmaradhana.... Kau tercinta.... #Mojowarno, 4 Juni 2020.