Seseorang Pergi Dari Kampung Halaman

Seseorang pergi dari kampung halaman sebab dirasakan olehnya hawa yang sesak menyelimuti diri, ketika ia harus tinggal di desanya.
Awal mula kepergiannya ialah tetkala ia kuliah sarjana (S1). Dia memulai langkah di sebuah kota yang sama sekali belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Bahkan, ia tidak punya saudara sama sekali di kota tersebut.
Percekcokan dengan orang tua, khususnya ibu tidak bisa dihindari. Sejak awal mula percekcokan itu sudah sangat sering terjadi terkait rencana kepergiannya merantau untuk kuliah di luar kota yang sangat jauh sekali dari tempat tinggalnya.
Hingga kini, sudah berjalan 3,5 tahun percekcokan itu masih saja terjadi. Ada apa gerangan yang terjadi?
Dia adalah anak pertama dari bapak dan ibu petani. Saudaranya satu, seorang perempuan yang sudah mulai remaja.
Jika ia kumpulkan serpihan puzzle kehidupan akan terbentang cerita panjang dan menakjubkan!
Namun, saat ini yang akan tertuliskan adalah tentang kegelisahan hati dan buteknya pikiran menghadapi hidup. Dia tidak memiliki banyak teman, akhir-akhir ini dia bahkan sering mengurung diri di kamar. Semua persoalan seolah gelap saja urusannya.
Kita uraikan secara pelan-pelan bagaimana ini semua bisa terjadi!
Dimulai sejak saat ini, waktu ini, sekarang, detik ini, saat penulisan ini, momentum saat kata demi kata ini tertulis, saat itulah hatinya terasa sempit, sesak, sumpek, perih, gelap, dan sakit. Pikirannya pening, lari kemana-mana, tidak fokus, penuh pertanyaan, penuh kecemasan, penuh keraguan, dll.
Memang, kondisi saat ini dia berada pada kondisi yang buruk. Ia memikirkan skripsi, memikirkan keseharian yang tidak produktif, sering tidur di pagi hari bahkan sampai siang. Baju kotor menumpuk, sulit makan, uang bulanan habis, jarang bergaul, jarang ngobrol, jarang membantu, jarang mandi, jarang shalat, sering tinggal sholat, maksiat tubuh, mudah tersinggung, mudah marah, mudah baper, malas jaga kebersihan lingkungan, malas membantu orang, malas silaturahmi, malas segala hal pokoknya!
Kondisi seperti itu bukan tanpa sebab. Dia mengalami keterpurukan itu pastinya karena banyak faktor.
Faktor-faktor itu mengerucut pada kesalahan manajemen hidup, manajemen emosi, manajemen hati, manajemen uang, manajemen waktu, dsb. Generalnya seperti itu.
Peristiwa konkrit sebagai hasil dari kesalahan-kesalahan manajemen itu adalah kejadian pacaran di masa perkuliahan ini!
Lucu ya? Sungguh peristiwa yang sangat menggelikan sampai bias membuatnya tak berdaya!
Ia tak pernah tahu apa hikmah disebalik ini semua? Adakah hikmah yang bisa dipetik? Bila ada, lantas mengapa sampai saat ini pun dia tidak bisa memetik hikmah tersebut? Benarkah ada? Dimana? Yang mana? Kapan datangnya?
Peristiwa itu sebetulnya peristiwa lumrah dan remeh temeh yang seringkali dialami manusia : Patah hati!
Tapi, baginya peristiwa itu sungguh amat besar dan penuh dengan drama serta prahara
Mungkin karena hal itu adalah pengalaman pertama kali yang ia alami dalam hidup ini. Patah hati teramat sepi dan pilu yang pertama kalinya ia alami.
Itu salah satu dari kurang cermatnya dia dalam mengelola manajemen hidupnya, yang sampai saat ini peristiwa patah hati itu masih saja mengganggu nyenyak tidurnya.
Efek dari peristiwa itu adalah berimbas pada nilai akademik yang rendah, hilang fokus, tanggung jawab organisasi yang diabaikan, sampai akhirnya tidak mempertanggungjawabkan amanahnya di akhir kepengurusan suatu organisasi yang diikutinya. Sungguh, itu adalah hal memalukan dalam hidupnya!
Selain itu, efek patah hatinya juga membuat dia kalap. Diterjangnya batas-batas nilai dan agama, sehingga terpuruklah ia dalam lumpur kemaksiatan dan dosa besar yang sangat memalukan dan menjijikkan! Mungkin maksiatnya inilah salah satu yang terbesar membuat hidupnya tak tenang.
Astagfirullahal’adziem!!!
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Peristiwa yang telah diuraikan diatas, terjadi saat masa perkuliahannya ini. Waktu kuliah yang sudah hampir mencapai empat tahun, digoyahkan dengan tidak tenangnya diri. Sungguh, hal memalukan yang akan selalu terngiang dalam hidupnya!
Kesalahan manajemen hidup sebetulnya juga telah terjadi sejak masa SMA. Coba akan diurutkan satu persatu yang masih teringat, dimulai dari masa kuliah hingga masa kecil dulu.
Kesalahan manajemen yang pertama (ini bukan mengurutkan dari yang awal, hanya daftar atau list saja), yaitu saat memutuskan untuk ikut UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) karena ajakan (baca: bujukan) teman. Hal ini terjadi pada masa awal perkuliahan. Kesalahan pertama ini membuat aku sebal, karena temanku yang mengajak akhirnya memutuskan untuk keluar dari UKM itu. Kesalahan manajemen kedua yaitu saat memilih dan memaksa bergabung dengan suatu organisasi, sedangkan saat itu kondisinya lagi patah hati karena baru saja putus dengan pacar.
Awalnya memang berjalan lancar dan cenderung menyenangkan, tetapi ujungnya buruk, menjijikkan dan sungguh memalukan.
Keikutsertaan dalam organisasi itu ternyata hanya pelarian saja karena rasa patah hati yang tak tertahankan.
Selanjutnya, kesalahan manajemen yang ketiga, terjadi saat SMA hingga membuatnya mendapatkan malu dari temannya. Ia dibilangi oleh temannya, bahwa kalau punya tanggung jawab itu sesuatu ya harus tetap dipikirkan, meskipun masih jauh batas waktunya. Tidak ditunda-tunda yang mengakibatkan keteteran dan riweuh diakhirannya.
Tak diingatnya itu peristiwa apa, tapi dia sangat malu meskipun bisa juga sebagai pelajaran, waktu itu.
Kesalahan manajemen keempat, juga masih terjadi saat SMA. Saat itu, dia adalah seorang ketua ekskul di sekolahnya. Saat ekskul tersebut mau mengadakan suatu acara, dia bertugas mencari tanda tangan wakasek kesiswaan dan tanda tangan kepala sekolah. Nah, saat itu wakasek belum hadir di sekolah, sedangkan kepala sekolah sudah ada dan akan berangkat keluar negeri. Alhasil, kepala sekolah menandatangani proposal kegiatan ekskul itu secara langsung.
Nah, saat bertemu wakasek kesiswaan, ternyata bapak wakasek tidak mau membubuhkan tanda tangan karena prosedurnya salah. Agak panjang memang urusannya. Hingga ia harus menemui pak wakasek di rumhanya untuk minta maaf dan minta tanda tangan (ttd).
Sangat malu sekali waktu itu, apalagi pak wakasek kesiswaan adalah tetangga satu desa dengannya.
Selanjutnya, kesalahan manajemen kelima dan mungkin yang terakhir dalam tulisan ini, yaitu terjadi tetkala SD. Waktu itu, ia hendak mengikuti lomba cerdas cermat tingkat kecamatan bersama dengan teman sekelasnya.
Singkat cerita, sayang dia gagal dalam ajang tersebut. Nah, pada waktu itu ia mendapat kritik dari kaka kelasnya, bahwa seharusnya jika diikutkan lomba semacam itu ia perlu menggali informasi dan mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan agar tidak gagal.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Itulah beberapa kesalahan manejemen sampai hari ini!
Dia sebetulnya anak yang rajin dan pintar. Sejak SD dia selalu juara kelas, waktu SMP pun selalu peringkat 1 dari kelas VII-IX. Saat ujian nasional SD ataupun SMP juga menjadi juara se-sekolahnya. Bahkan tertinggi se-kecamatan. Saat SMP juara 2 UN dan akhirnya mendapat hadiah tas. Juara 1 dan 3 adalah cewek dan teman sekelas dengannya. Memang, sebetulnya dia punya banyak potensi semacam itu.
Dia mengalami kemunduran saat mulai masuk SMA. Lingkungan yang semakin luas, persaingan ketat, adaptasi belajar yang lama, kurang kreatif, malu mengambil peran, dan lain sebagainya.
Selain itu, latar belakang kemundurannya saat SMA diawali saat pertama kali menentukan sekolah.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Sebagai siswa yang mendapatkan juara 2 ujian nasional SMP, dia ingin melanjutkan ke sekolah yang difavoritkan.
Akan tetapi, orang tuanya melarang dan mengantarkannya ke sekolah yang dekat dengan rumahnya. Memang, orang tuanya bukanlah orang yang kaya sehingga pilihan sekolah dekat rumah menjadi pilihan yang masuk akal.
Dia agak nggak enak hati sebetulnya dengan pilihan orang tuanya. Tapi mau bagaimana lagi?
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Tiga tahun SMA pun dijalani, akhirnya ia memilih melanjutkan kuliah. Wuihh!!! Tidak main-main, dia kuliah jauh sekali dari rumah, jauh dari sanak keluarga, dan tak punya satu pun keluarga.
Kepergiannya kuliah bukan tanpa masalah, ia harus cek-cok dulu dengan ibunya. Sungguh, sungguh sangat memilukan memang, hingga kini sudah berjalan 3,5 tahun perkuliahan masih saja penuh kesumpekan, kesempitan, kesesakan, dan ketidaktenangan hidup.
Rasa diri tidak berguna karena sampai saat ini belum bisa memberikan apa-apa. Rasa sesal, rasa bersalah, rasa khawatir, rasa depresi, stress, rasa cemas, rasa bingung, ragu-ragu, dan khawatir akan masa depan yang masih ngambyang!
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Apalagi saat melihat teman atau orang lain meraih kesuksesan, meraih prestasi, meraih apa yang mereka inginkan di usia sebaya ini. Semakin membuat down dan lemah mental!!!
Rasa iri muncul, rasa cemburu, rasa ingin marah, rasa kecewa, rasa benci, rasa ingin mengamuk menjadi-jadi.
Dia sungguh kecapekan, tiap malamnya tak bisa memejamkan mata. Dia terjaga hingga adzan Subuh berkumandang.
Lantas, saat itu dia terserang kantuk berat. Ingin rasanya dia melawan kantuk, tapi apa daya sang kantuk teramat berat. Terlelaplah ia di pagi hari yang cerah saat orang lain sudah sibuk beraktivitas meraup rezeki, melewatkan hari, melepas rezeki, meneruskan tidurnya yang berat sekali, hingga datang malam da ia menyesali lagi perbuatannya itu.
Sungguh, ia bingung harus bagaimana? Memulai lagi darimana? Apa yang bisa dimulai ulang, di-restart, di­-setting ulang, sehingga bisa membuatnya balik seperti semula? Dia harus bagaimana?
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Ia pun terpikirkan, apakah nanti ia akan kembali berkelana atau tetap tinggal di kampong halamannya seperti yang diminta ibunya? Sedangkan ia ingin sekali mengembara dan melalangbuanakan jiwanya di dunia ini agar ia rengkuh maknawi kedamaian dan ketentraman yang sejati di dalam kehidupan ini? Akankah ia?

~Purwokerto, 02 Maret 2020.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lenggah Kursi

Alunan Merdu Mendayu-dayu

2018 to 2019