Kekecewaan


Kekecewaan
Ke∙ce∙wa // (adv), suatu kondisi yang dirasakan oleh diri atau terjadi di dalam diri akibat peristiwa-peristiwa menyakitkan yang terjadi di masa lampau seseorang.
Mungkin itulah definisi yang dapat menggambarkan situasi hatinya saat ini. Dia, si lelaki murung dan malang tiada terkira. Tak bisakah ia mendobrak belenggu pikirannya sendiri itu?
Peristiwa yang melingkupi hidup seseorang tidak terlepas dari lingkungan dimana ia tinggal. Siapa saja temannya, siapa saja orang di sekitarnya, kebiasaan yang menjadi keseharian di lingkungannya, dlsb.
Selain itu, kekecewaan juga diakibatkan oleh salah pengharapan, salah persepsi, pengharapan yang berlebihan, dll. Dalam hal ini adalah faktor internal dirinya sendiri.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Kembali ke dia, sebetulnya apa sih yang menjadi sumber kekecewaannya itu? Apakah faktor eksternalnya secara mutlak memengaruhi? Ataukah juga ada keterlibatan faktor internal yang salah manajemen? Mari coba kita bantu ia untuk mengurainya.
Kekecewaan ini juga menjadi salah satu pertimbangan dia untuk menetap atau merantau saja dari desanya. Sebab, salah satu sumber kekecewaan adalah berada di desanya itu.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Secara faktor eksternal sebagai sumber kekecawaan akan coba diuraikan satu-persatu.
Pertama dan yang teringat awal sekali adalah kekecewaannya akibat tidak diperbolehkan mengikuti sekolah sepak bola (ssb). Saat itu dia masih kelas 7 SMP. Dia sudah mempersiapkan segala hal agar bisa memperoleh izin orang tuanya untuk bergabung dengan ssb.
Dia sudah beli sepatu bersama teman-temannya. Lantas ada kejadian menarik yang bisa dibilang itu adalah strateginya agar mendapatkan izin untuk mengikuti ssb.
Jadi, setelah dia membeli sepatu, sore harinya sepatu itu ia taruh di samping pintu masuk rumah orang tuanya. Lantas, ia pura-pura pergi dari rumah dengan harapan orang tuanya-lah yang mendapati sepatu sepakbola itu.
Harapannya pun terwujud, sepatu yang diletakkan di samping pintu masuk diambil oleh orang tuanya. Sontak dia dipanggil dan disuruh pulang untuk menjelaskan tentang sepatu itu.
Pulanglah ia, dengan harapan dia akan mendaparkan izin. Orang tuanya pun bertanya sepatu siapakah itu? Dia jawab gak tau, mungkin titipan dari temannya. Orang tuanya tidak puas dengan jawaban si dia. Mereka terus bertanya seraya memarahinya.
Sampai akhirnya karena dia ketakutan, mengakulah ia bahwa itu memang sepatu yang baru saja dibelinya karena dia ingin mengikuti sekolah sepak bola atau ssb. Marahlah orang tuanya mendengar pengakuan dia. Mereka mengancam untuk memberhentikan dia dari sekolah, lalu disuruh untuk masuk sekolah sepak bola terus. Marah bukan main kedua orang tuanya itu, memarahinya habis-habisan. Dia sangat terpukul dan memohon maaf seraya nangis terisak-isak.
Itulah kekecewaan pertama yang residunya meledak dewasa ini dan hal itu sangat dirasakan olehnya saat ini tetkala sudah berkepala dua (usia 20-an tahun). Namun, disebalik kekecewaanya itu, muncul pemikiran lain, bahwa mungkin saja dengan dilarangnya ia mengikuti ssb, dia  pun bisa terhindar dari cedera dan macam-macam hal yang tidak diinginkan oleh kedua orang tuanya.
Seperti itulah, dunia memang penuh kontradiktif, saling bertentangan satu sama lain, seharusnya dipilih alternative pikiran yang positif. Sayang itu berat sekali tetapi tidak mustahil. Oke, itu peristiwa yang menimbulkan kekecewaan pada dia!
Peristiwa yang pertama.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Peristiwa kedua yang menimbulkan kekecewaan pada dirinya dan dirasakan saat masa dewasanya ini adalah: peristiwa bertengkarnya kedua orang tuanya. Sebagai seorang anak yang telah menginjak usia dewasa, dia mafhum bahwa pertengkaran dalam rumah tangga adalah lumrah dan tidak bisa dihindari.
Hanya saja, peristiwa pertengkaran kedua orang tuanya di masa lampau ternyata menjadi residu yang begitu menyesakkan dia saat ini. Pertengkaran itu termasuk juga pertengkaran orang-orang dewasa di lingkungannya yang akan diuraikan satu per satu yang masih teringat.
Pertama, pertengkaran bapak dan ibunya. Saat itu usianya sekitar 7-8 tahun atau usia kelas 1 SD. Seingatnya orang tuanya itu sering bertengkar, saat itu dia sungguh takut saat keduanya sedang marahan. Namanya anak kecil, seringkali dia menangis saat pertengkaran orang tuanya terjadi. Hingga suatu hari, bapaknya memutuskan pergi meninggalkan dia dan ibunya di rumah. Saat itu kondisinya sedang terjadi pertengkaran besar, hingga tetangga dan keluarganya datang melerai.
Hingga sang bapak akhirnya pergi entah kemana dan dia menangis terisak-isak di ruang tamu karena ketakutan, sedih, marah, kecewa, dan lain perasaannya. Sanak keluarga menenangkan dia dan ibunya atas kepergian bapaknya itu. Saat itu kalau tidak salah adiknya masih bayi. Dan saat itu, bapaknya tidak pulang bahkan saat bulan Ramadhan, dia sering makan sahur sendiri berdua dengan ibunya saja. Terkadang ibunya juga terisak menangisi keadaan yang terjadi.
Itulah kekecewaannya dengan sumber dari pertengkaran kedua orang tuanya. Selain peristiwa itu, sebetulnya banyak sekali pertengkaran antara bapak dan ibunya, ada yang sampai membanting piring, membanting pisau, dlsb.
Cuma, sehebat apapun pertengkaran antara bapak dan ibunya, beliau berdua masih saja bertahan hingga saat ini. Meskipun dia khawatir akan terjadinya perpisahan saat dia dewasa ini. Naudzubbillah!!!
Kedua, pertengkaran antara bapaknya dengan pakdhenya. Kejadiaannya seperti ini, waktu itu pagi hari, kalau tidak salah hari minggu karena dia sedang libur dan ada di rumah. Bapaknya sedang menggendong adiknya di teras rumah. Saat bersamaan budhenya menjemur pakaian.
Hari ini Selasa 10 Maret 2020, aku melanjutkan tulisan disebalik lembaran ini/ tulisan di atas (penulisan dilanjutkan di hari setelahnya).
Catatan terakhir di lembaran sebaliknya adalah tentang daftar peristiwa di masa lalu yang membuatku kecewa akhir-akhir ini.
Sebetulnya, peristiwa-peristiwa itu sudah lama terlupakan olehku. Namun, beberapa waktu ini muncul dengan sendirinya, nyelonong masuk pikiranku dan membuat sesak pikiran dan otakku.
Oh iya, aku terlupa seharusnya aku memakai kata ganti orang ketiga (dia), tapi yasudahlah terlanjur tertuliskan.
Sebenarnya masih banyak peristiwa mengecewakan yang hendak dia tulis dan dia daftar satu persatu peristiwanya. Namun, ia berpikir menyudahi saja agar tidak membuka luka lama.
Oleh karena itu, pada lanjutan tulisan ini akan dituliskan cara menghadapi kekecewaan itu, agar dia bisa kembali menjalani hidup yang wajar.
Sesungguhnya tak dapat ia mengerti kenapa pikiran tentang masa lalu itu hadir dan membuatnya sulit tidur akhir-akhir ini. Sudah jelas to, sesungguhnya pikiran itu hanya abstrak saja, maya, semu, dan tidak nyata meskipun peristiwa-peristiwa itu nyata adanya pada saat terjadi. Namun, bukankah saat ini sesungguhnya zaman telah berubah, waktu telah ganti? Lantas mengapa masih terpikirkan?

Bubarkan saja kenangan buruk masa lalu, terima itu sebagai sejarah kelam. Jangan diungkit-ungkit. Pun tentang masa depan jangan cemas-cemas amat. Semangat menjalani kehidupan nyata!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lenggah Kursi

Alunan Merdu Mendayu-dayu

2018 to 2019