Keberanian untuk Istiqomah

(Disadur dari Facebook)
16 DESEMBER 2018 · PUBLIK
....belajarlah pada senja, sampai kapanpun ia tak kan mengkhianati warna jingganya... ~Titut Edi Purwanto (Sesepuh Banyumas).”
Begitu kira-kira pesan yang aku tangkap dari seorang yang sangat luar biasa, mbahnya, bapaknya, dan sesepuhnya orang Banyumas Raya. Iya, beliau Pak Titut, seorang yang terkenal nyentrik dan cukup unik di tlatah Banyumas ini. Gimana ga unik, wong di setiap pertunjukan seninya selalu menampilkan hal-hal baru yang tidak lumrah, seperti melukis dengan tubuh (bisa ente liat di-link ini ya https://www.youtube.com/watch?v=1auiJgGpnow). Bagi aku yang memang bukan orang asli Banyumas, ketika bertemu pertama kali dengan beliau dalam acara simpul maiyah Juguran Syafaat, kesan pertamanya adalah Takjub. Kenapa? lha gimana cung, wong di daerah asalku jarang-jarang nemuin orang “luar biasa” macam beliau tu, ndilalah disini bisa kenal dan tau tentang beliau. Semua memang sudah diperjalankan mungkin ya, dan pangkal dari pertemuanku dengan beliau dan orang-orang di seputaran komunitas beliau adalah, Maiyatullah.
Mungkin ada yang sudah mengenal apa, siapa, kapan, dimana, bagaimana, dan mengapa Maiyah itu? wkwk tenang lur hiperbolis dikit lah. Namun, masih ada juga kemungkinan yang belum kenal dengan Maiyah. Aku ndak akan panjang lebar jelasin tentang Maiyah, semoga yang baca diperjalankan sendiri untuk bisa mengenalnya. Yang akan kubahas adalah tentang Pak Titut dan wejangannya yang sudah kutulis di atas. Ya, beliau Pak Titut memang salah satu yang membikin perantauanku menuntut ilmu ini menjadi berwarna. Saat awal-awal dulu, satu kesan istimewa tentang Pak Titut adalah, ketika aku mengajukan suatu pertanyaan, oleh Pak Titut dijawab dengan penuh antusias laiknya seorang mbah, seorang bapak yang memberi arahan kepada anaknya yang baru akan mengarungi dunia perantauan ini. Beliau mengemukakan pandangan beliau terhadap kehidupan, menceritakan sejarah kehidupan beliau hingga akhirnya menjadi seperti sekarang yang penuh totalitas ingin menguri-uri kabudayan mBanyumasan. Lantas beliau berpesan kepadaku sebagai seorang perantau, bahwa aku ini dibilangnya beruntung karena telah singgah di Bumi Banyumas ini. Sebab, orang Banyumas itu penuh cinta dengan segala apa yang datang dan tinggal di Banyumas, mencintai sesamanya, mencintai alam sekitarnya, dan senantiasa juga mencintai budayanya. Dulu, kata Pak Titut senjata orang Banyumas adalah kudi, semacam golok, tapi punya perut. Teman-teman bisa searching gimana bentuknya. Dijabarkan oleh Pak Titut, dengan bersenjatakan kudi, mustahil orang Banyumas akan berlaku kriminal, mereka adalah orang-orang yang akan dan terus menjunjung perdamaian. Itulah kenapa aku merasa Banyumas adalah tempat kelahiran keduaku setelah tempat asal aku dilahirkan ke dunia oleh ibuku dulu.
Banyak mutiara-mutiara yang kudapatkan dari Yai Titut – hehe kupanggil beliau dengan sebutan Yai sesuai dengan kultur daerah asalku, sebab disini beliau dipanggil Kaki, Kiai, dlsb – selama persinggunganku dengan beliau di Majlis simpul maiyah Juguran Syafaat Purwokerto. Salah satu mutiara yang baru saja kudapatkan kemarin dini hari dalam rutinan Juguran Syafaat, yakni tentang Keberanian untuk Istiqomah. Hasil elaborasi dalam diskusi rutin tersebut, akhirnya terceletuk tentang hal tersebut, yakni ketika Pak Titut menyampaikan sebuah lukisannya tentang senja, bahwa senja sampai kapanpun tak akan mengkhianati warna jingganya. Disitu pak Titut ingin mengungkapkan pesan agar kita manusia belajar dari alam sekitar, senja yang tak akan pernah mengkhianati warna jingganya selalu setia untuk tetap muncul, meskipun sekejap dan akan dilahap temaram. Namun, dalam pergiliran waktu dia selalu muncul dan terus muncul serta setia akan warna jingganya. Itulah, dari senja kita bisa belajar, bahwa untuk istiqomah haruslah muncul keberanian dari diri kita. Sebab, senja meskipun berulang kali ia muncul-lenyap muncul-lenyap, tapi dia tetap setia pada warna jingganya.
Seperti Pak Titut yang sangat menginspirasi para cucu-cucunya, memberi cambukan lantas pukulan keras di nalar kita, bahwa berkarya adalah suatu pilihan, berkarya adalah suatu totalitas dan penuh ketekunan, meski banyak cemoohan, banyak sindiran, jika dengan karya bisa mendekatkanmu kepada Tuhan Semesta Alam, maka kau akan dikenang, meski hayat telah sirna dari badan. “Leluhur bisa mati, tapi karyanya akan terkenang sepanjang masa”. Kepada para cucunya, Pak Titut berpesan, bahwa lakukan saja hal-hal yang kamu bisa, hal-hal yang kamu sukai, masalah rezeki pasti suatu saat akan datang, karena sanepan jawa bilang semua pasti akan dipertemukan dengan kolamnya (rezekinya). Keberanian untuk Istiqomah memang perlu kuteliti lagi, apakah sudah ada dalam setiap lini keseharianku? Apa malah berani saja belum, boro-boro istiqomah? Terima kasih atas ilmunya Yai Titut, Kaki Titut Edi Purwanto. Atas anugerah Maiyah, semoga semua berkelindan dalam cintaMu Tuhan. Teruntuk Simbah Muhammad Haji Ainun Nadjib dan teruntuk Baginda Agung Rasulullah Muhammad SAW, Al-Fatihah.
~Masuzi Ramadhani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lenggah Kursi

Alunan Merdu Mendayu-dayu

2018 to 2019