Kalam Tuhan



Menggelegar bersaut-sautan guntur di waktu siang, diiringi gemericik deras hujan, saling menghunjamkan diri ke tanah permukaan. Gemericik hujan terbiaskan suara guntur bak meriam menghujani medan perang, saut-bersaut, tak terperikan.
Pertama, tak lupa syukur Alhamdulillah berkat anugerah Tuhan atas gelegar guntur dan derasnya hujan. Puja-puji serta doa-doa terpuji terhaturkan agar turunnya hujan, alirannya membawa kebermanfaatan bagi semesta alam, airnya bermanfaat bagi hidup-perikehidupan manusia-hewan-tumbuhan, serta manfaat-manfaat lain yang jauh dari segala dampak kurang baik, asalkan kita mampu mengelola lingkungan.
Shalawat dan salam kepada junjungan Agung senantiasa tersampaikan, demi wujud cinta kasih serta kesetiaan kita mengikuti ajaran agung Beliau Nabi Muhammad saw. sehingga kekhawatiran diri serta ketakutan hati di saat hujan semacam ini, bisa terdamaikan atas syafaat beliau, kekasih Paripurna Allah Swt.
Tetkala petir menyambar, rasa nyawa ingin meloncat dari raga, hati dan jantung seolah tercambuk, bayangan-bayangan akan dosa dan kesalahan yang lalu, terhampar nyata di depan mata. Tipis-tipis, akhirnya mengalir hangat air mata di pipi, mata pun sembab.
Menggelegar keras, sekali-sekali guntur di siang ini, hujan deras terus mengguyuri. Sunggguh, tiada daya upaya selain kepunyaan-Nya. Kesombongan, kebathilan dan kejahilan yang selama ini terbangun megah di singgasana hati, rontok seketika hanya dengan sekali hentak, gelegar dahsyat, petir keras siang ini. Tak kuasa membayangkan, tentang kejadian-kejadian yang akhir-akhir ini menyapa Ibu Pertiwi. Kejadian bencana alam, baik gempa, tsunami, banjir, hingga aktivitas vulkan. Kejadian yang menerjang dan merenggut nyawa saudara sebangsa kita, melebur gedung-gedung, menyobek tanah hingga terpisah. Sungguh tak kuasa.
Saudara-saudara yang tak terkena dampak bencana, memang telah berbondong-bondong memberikan bantuan, syukur Alhamdulillah. Namun, terlepas dari itu, tak sanggupkah kita mulai menyadari akan hal disebalik kejadian-kejadian tersebut? Tak sanggupkah kita, untuk menahan nafsu kita agar jangan sampai membicarakan hal buruk tentang peristiwa-peristiwa bencana, utamanya tentang para korbannya? Tidakkah bisa, kita berkhusnudzon saja, bahwa para korban semoga diterima di sisi Allah Swt? Tidak lantas berlaku seolah-olah kita itu tuhan, yang menentukan peristiwa itu termasuk azab atas suatu perbuatan buruk dari para korbannya. Sungguh aku tak kuasa membayangkan bagaimana perasaan para korban, apabila mereka mampu bangun dari kematiannya, lantas mereka nyatakan perasaannya kepada kita yang barangkali meng–azab-azabnya, membicarakan hal buruk atas kematiannya. Sungguh tak kuasa aku. Sebab, kehendak Allah siapalah yang tahu dengan sempurna, kecuali para RasulNya. Maka, sepantasnyalah kita berhati-hati, meski hanya hal sepele semacam itu, kita harus hati-hati mengelola hati.
Hujan mengguyur tipis-tipis, guntur tetap bergemuruh ria di atas awan sana. Kalam Tuhan terjabarkan dari petir menggelegar yang menyambar, hingga aliran listrik padam. Semua itu membawa perenungan, kita tak berdaya, kapan saja Tuhan berkehendak memanggil kembali kita. Namun, pertemuan dengan Tuhan itu, janganlah ditakuti, sebab itulah sebaik-baiknya tempat kembali.
Hujan mengguyur hanya dari talang atap rumah, guntur menggemuruh sekali, lantas hilang, menggemuruh lagi, lantas lenyap suaranya, cahaya petir menyala, guntur kembali menggelegar, menggetarkan kaca jendela, anak ayam berciat-ciat mengejar induknya, kambing mengembik, kibasan sayap ayam jago terdengar. Semuanya indah, seindah siang ini, syahdu untuk memejamkan mata. Alhamdulillah.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lenggah Kursi

Alunan Merdu Mendayu-dayu

2018 to 2019