Edisi Rantau Part I
Sumpek (Jw. red. Tertekan)
Tulisan ini sebenarnya adalah tulisan
awal di blog coretan pena penuh makna ini. Namun, karena sesuatu harus kuhapus
dari peredarannya :p Maka hari ini aku re-produksi (dengan tanda pisah) tulisan
ini yang semoga bisa mengingatkanku tentang perjuangan di awal-awal perkuliahan
dulu. Bahkan sebelum kuliah, masa-masa aku masih di daerah asal sebelum
berangkat ke kota rantau yang disana ngga punya saudara sama sekali. Okay langsung
aja sobat, silakan menikmati tulisan ini.
Fa,
(aku dulu menyebut diriku Bang Fa, wkwk)
beberapa hari lagi kau akan melakukan perjalanan jauh. Perjalanan suci untuk
memerangi kebodohan, ya, perjalanan itu demi memerangi kebodohan. Namun,
kejadian siang kemarin tidaklah bisa kau lupakan. Sumpek, gelap. Semua terasa kelam. Matamu berkunang-kunang,
kepalamu pening, nafsu makanmu pun terganggu. Siang itu, emak kau membaiatmu. Di
ruang tamu yang sederhana, meja kayu dengan barisan jajanan hari raya
terpampang di tengah-tengah ruangan, kursi sofa berwarna hijau kebiru-biruan
berdiri kaku menopangmu duduk. Ya, di tempat itulah kamu dibaiat. Emakmu bilang,
bahwa beliau menyesalkan kenapa engkau harus menempuh perjalanan jauh hanya
untuk kuliah? Kenapa kau tidak mengambil kuliah di universitas-universitas yang
lebih ternama di daerahmu saja? Kenapa harus di luar kota?
Fa,
emak kau juga bilang, duit darimana untuk pergi kesana? Nak, duit darimana? Sontak
kau cekcok sebentar dengan emakmu. Tapi, kau kan tahu Fa, berdosa besar durhaka
pada emak itu. Fa, selepas baiat itu, kau murung sekali. Kerjaanmu hanya dari
kamar, keluar kamar, ke dapur, balik ke kamar, keluar kamar, ke dapur. Itu saja!
Fa, sungguh sumpek apa yang kau rasakan ini?
Tapi,
Fa, tidakkah kau ingat firman Tuhan yang seringkali diperdengarkan kepadamu
saat pengajian tempo hari? Bahwa satu macam kesulitan ndak akan mengalahkan dua macam kemudahan! Tidakkah kau ingat, Fa?
Tidakkah kau ingat? Fa, sekarang saatnya, kau usap air mata yang kebetulan
membasahi pipimu, tegakkan dadamu, dongakkan kepalamu, hadapkan kedepan
wajahmu. Ayo Fa, melangkahlah dengan mantab. Jangan ragu-ragu, Tuhan mempunyai
rahasia kehidupan yang sangat indah. Tataplah hari depan, Fa, tataplah hari
depan!
Fa,
semoga kau tetap bisa menjaga nyala api di hatimu. Semoga, Fa!
Jombang,
16-07-2016
Nah, itu sobat tulisanku yang
awal-awal dulu, memang isinya adalah cerita pengalaman awalku dalam menempuh
perkuliahan. Di masa-masa awal memang banyak sekali tantangan yang kulalui,
hingga dengan sangat menyesal aku harus beradu argumen dengan ibuku tercinta. Aku
sangat menyesali satu hal itu kawan, sehingga sekarang i really miss my mother. Di kota perantauan ini, tak henti-hentinya
aku berdoa untuk kebaikan orang tuaku, yang alhamdulillah setelah melalui
kejadian-kejadian awal perkuliahan, sekarang aku sudah mulai menemukan kemudahan-kemudahan
dan teman serta keluarga baru. Semoga kawan-kawan pembaca bisa mengambil hikmah
dari tulisan ini.
Komentar
Posting Komentar