Edisi Rantau Part II


Asa Cinta yang Tertinggal di Desa
Fa, sebentar lagi kau harus angkat kaki dari kampung halamanmu, ya, angkat kaki dari kampung halaman. Bukan karena kau diusir oleh warga, bukan pula karena kau jadi buron polisi yang selalu dikejar-kejar. Fa, kau harus angkat kaki dari kampungmu ini, karena kemauanmu sendiri, ya, kemauanmu sendiri untuk mengubah nasib. Kemauan sendiri untuk memerangi kebodohan. Ya, kau angkat kaki demi mengejar cita-citamu “thalabul ilmi.”
Fa, sungguh kau nanti akan hidup di perantauan, jauh dari keluarga, jauh dari teman, dan jauh dari orang-orang yang selama ini menyayangimu dengan tulus. Tapi jangan khawatir Fa, kau pasti ingat ungkapan seorang bijak, bahwa saat kau hijrah meninggalkan kampung halamanmu, meninggalkan keluarga, teman-teman, dan kenalan-kenalanmu, maka jangan bersedih, sebab di tempat baru itu kamu akan mendapat teman baru, keluarga baru, dan sahabat-sahabat baru. Jadi, Fa, tetaplah jaga nyala api di hatimu. Meskipun nyalanya kecil, biarlah, asalkan tetap konsisten terjaga untuk menyala.
Fa, kau memang paham betul ungkapan seorang bijak itu. Akan tetapi, Fa, ada seseorang yang membuatmu tidak sabar untuk segera menyelesaikan kuliahmu. Siapakah dia, Fa? Kau pasti sangat tahu karena ini menyangkut hati. Ibumu? Bukan. Bapak? Bukan. Adekmu? Salah semua pokoknya. Ibu, Bapak, adek dan keluargamu, mereka itu memang yang terutama menjadi alasanmu untuk segera menyelesaikan kuliah, Fa. Jadi bukan mereka, Fa! Lantas siapa?
Fa, seseorang yang akhir-akhir in membuatmu senyam-senyum sendiri. Membuatmu bahagia, Fa! yang menjadi alasanmu untuk tidak sabar segera menyelesaikan kuliahmu. Dia adalah seorang gadis sedesa denganmu yang telah menempati ruang istimewa di relung hatimu, ya, dia telah menempati ruang istimewa di hatimu. Meskipun, kau ndak tau apakah dia juga menempatkanmu di ruang istimewa hatinya apa ndak? Ah, masa bodo lah, Fa, apakah ndak boleh mempunyai rasa pada seseorang meskipun seseorang tersebut tak mengetahui sama sekali? Aku mendukungmu, Fa, aku mendukungmu!
Fa, tapi ingat akan pesan yang pernah diperdengarkan kepadamu saat pengajian tempo hari, “....sesuka-sukanya kau pada seseorang, lebih sukalah pada Tuhan. Secinta-cintanya kau pada seseorang, lebih cintalah pada Tuhan.” Fa, bisa dibilang berilah porsi yang besar untuk kau mencintai Tuhan. Berilah segenap hatimu untuk mencintai-Nya. Sebaliknya berilah porsi yang ndak berlebihan dalam mencintai seseorang.
Fa, biarlah rasa dan asa dari desa itu menemanimu, agar kau tak kesepian di perantauan nanti. Dan semoga nyala api di hatimu tetap berkobar, Fa. Semoga saja.
Jombang, 17-07-2016


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Momen Pergerakan dan Mempergerakkan Pemuda Desa

Semangat Manfaat !!

Edisi Rantau Part I