Postingan

Hidayah

Hidayah itu diturunkan dan didapatkan zi, setiap hari Allah menurunkan hidayah pada seluruh semesta, tinggal manusia nya aja, mau cuek dan semakin menjauh atau berusaha meraih hidayah tersebut.  Coba introspeksi, mungkin ada yg salah dengan sholat mu.  Mungkin kamu sedang jauh dari Al Qur'an.  Kamu kalau hidup cuma ngejar ekspektasi manusia kamu sendiri yg capek zi.  Coba kamu ngejar ekspektasi Allah, Allah itu cuma pingin kamu taat, jalankan perintah nya dengan sebaik-baiknya, ridho pada semua ketetapan-Nya.  Ibadah yg paling besar pahalanya adalah ibadah ridho, ridho pada semua takdir Allah, ridho, ikhlas, dan menjalani nya dengan penuh rasa syukur. 

Momen Pergerakan dan Mempergerakkan Pemuda Desa

Gambar
(Momen Pergerakan dan Mempergerakkan Pemuda Desa)  Japanan, 13 Agustus 2023 Saya sungguh sangat tertarik dengan idiom dalam bahasa Jawa, "kebo nyusu gudel". Pemahaman yang saya dapat dari idiom itu sampai sejauh ini adalah nuansa arogansi dan gengsi serta tensi, bagi generasi tua yang ogah bahkan cenderung amit-amit kalau misalnya ia lebih kalah daripada generasi muda.  Hal ini disebabkan banyak faktor, seperti misalnya menganggap bahwa yang tua sudah sangat berpengalaman dalam hidup, sudah mengenyam asam pahit getirnya kehidupan, serta dilain sisi menganggap bahwa yang muda harus selalu diarahkan, masih harus dibimbing, dan tidak berkompeten dalam kehidupan.  Nuansa ini tidak seluruhnya benar, tapi yang selama ini terjadi mayoritasnya seperti itu. "Kebo nyusu gudel", mengumpamakan orang tua yang harus menimba ilmu dari yang muda, dianggap tabu dan tidak sopan. Padahal sesungguhnya ketika kita belajar dari yang lebih muda - misalnya dengan mempelajari proses tumbuh ...

Tetralogi Konak [4]

Sebelum Mati Dicarinya secercah cahaya di ujung waktu setelah penghabisan ia dihajar konak kuyup sekujur hati ditimpa sepi sayup bergema suara,  "Barangsiapa berlucah ria, seyogyanya hatinya kuyup berselimut junub" hingga ia mencebur pada samudera  mensuci, memurni, memfitri kembali Maka, secercah cahaya di ujung waktu itu imaji paling religi, untuk beringsut menggapai samudera mensucikan jiwa, menyetrika kusutnya raga, menggodok murninya hati Sebelum nanti menghadap pada hari Pertemuan Agung berhadap-hadapan dengan sebab-sebab yang telah diperbuat sendiri : "Sebelum Mati"

Tetralogi Konak [3]

  Belenggu ~Oji pergelangannya terbelenggu terikat waktu di belakang tengkukmu Kakinya terjegal melonglong meminta bala bantuan yang ada semakin terkekang jegalan kakinya menggerutu memekik nencekik waktu Sedang, mulutnya bisu!  bukan kerana dilahirkan ibu begitu tapi sebongkah sumpal menutup goa gema itu!  Menekuk lutut ia, terbelenggu waktu cap cap belenggu mentato kulit sawo matang itu memberi kesakitan memberi kenangan kenangan pedih jika tak jalan di rel lurus itu!  Ayo!!! Belenggu saja pendosa itu! 

Tetralogi Konak [2]

  Kedung ~Oji Airnya beriak-riak keruhnya nampak-nampak kerikilnya mengoyak-oyak kedalamannya tak nampak Riaknya nyaring memekak lantas ikan tak satu pun beranak beranak kedalaman  beranak pemahaman beranak kedewasaan beranak hikmat dan kebijaksanaan Tidak! Tidak nampak ikan beranak  kecuali di kedung kedalaman ia bertelur beranak-pinak menetas hikmat dan kearifan Iya, hanya di Kedung Kedalaman ikan beranak-pinak bertelur menetas  Melahirkan generasi baru yang lain hal dengan generasi lalu Tapi, tetap : Satu! 

Tetralogi Konak [1]

  Ingat Itu ~Oji Berjalan gontai memanggul rasa abai terhadap keadaan diri lunglai Jemu berujung penghabisan waktu tetkala nurani dikoyak kemaksiatan diri membuahkan gagal mencipta ketidkanyamanan lantas, di batas itu  diri abai tak menentu abai terhadap waktu abai terhadap kalbu abai terhadap ortu abai terhadap segala sesuatu Berjalan gontai memanggul rasa abai Hingga ujung waktu ; Pertanggungjawaban itu! 

Sejatiku, Kau

Aku Siapakah?  Mana aku sejati?  atau siapa sejatinya aku ini?  Apatah aku ialah aku rasaku?  Apatah aku ialah aku pikiranku?  Apatah aku ialah aku jasadiku? Apatah aku ialah aku batiniahku?  Apatah aku ialah aku wadagku? Apatah aku ialah aku sirr-ku?  Duhai.... Mana aku sejati?  atau siapa sejatinya aku ini?  Beterbangan mengitari cakrawala Mencari makna tiada terkira  Mana aku sejati?  atau siapakah sejatinya aku ini? 

Yang Setia

Yang Setia Yang Setia.... bukan dia yang mengumbar kata Apalagi mengumbar janji belaka Apalagi mengumbar nafsu neraka Yang Setia.... Bukan dia yang berani berkata cinta Tapi pengecut tuk melangkah nyata Bukan dia yang hanya mampu mengumbar kata kata Tapi nol pembuktiannya Yang Setia.... Hanya satu frasa : Taat PadaNya menjadi Penguat Langkah Mengambil Janji Setia Jombang-Bekasi /30 Agustus 2021

Sepucuk Surat

Kepada yth. Saudara/i Nurani di tempat Sepucuk Surat Suratku ini…. kusampaikan untuk diriku Aku tak tahu apakah surat ini resmi atau tidak? Aku juga tak tahu apakah wajib kubalas atau tidak? Aku hanya ingin suratku sampai ke hatiku Aku hanya tahu jika suratku harus tersampaikan kepadaku Aku hanya ingin diriku tahu dan juga mengerti Bahwa suratku ini hanya untukku sendiri           Inilah sepucuk suratku           Assalamualaikum wr.wb.           Yth. Aku sebagai penerima surat           di tempat           Sudah lama aku memendam perasaan ini. Aku lupa bagaimana cara mengungkapkan perasaan. Melalui lisankah? atau mata? atau telinga? atau tangan? ataukah kaki? Sungguh aku lupa…lupa sama sekali!     ...

For Love

Haruskah kunyatakan cintaku? Agar kau dengar suara hatiku? Haruskah kulukis rasa sayangku? Haruskah kutulis semua kerinduanku? Agar kau sedikit saja mengerti Betapa aku : MENANTI CINTAMU! Selembar doa aku layangkan padamu Mengharap kau menemani hidupku Meski aku tahu Aku merasa tak mampu memilikimu Hanya lewat guratan kata Kuhaturkan segenap rasa Yang kupendam dalam puncak asmara Takkan hilang dalam hitungan masa Jika Tuhan mengizinkan Ijinkan aku menyayangimu Dalam derai tawa Dalam tangis air mata Ataupun Dalam cinta yang terpendam rahasia

Aku dan Perasaanku

          Namaku Mutia, aku baru sebulan pindah di kota ini. Awalnya aku lahir dan dibesarkan di Surabaya. Namun, karena papaku ditugaskan di kota ini, terpaksa aku sekeluarga harus pindah. Kotaku berada di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Siang malam deru mesin pabrik dan kendaraan selalu menemani. Tak berhenti, semuanya mencari keuntungan dengan kesibukan.           Aku bersekolah di SMP SUka Jaya 01 Jakarta. Walaupun baru sebulan, aku sudah mendapat sohib akrab. Dia seorang nasrani, namanya Tiara. Tiara bukan saja teman sekelasku, tapi dia juga tetangga di kompleks perumahanku.           “Permisi…Mutianya ada?” kata Tiara sambil menekan tombol ‘bel’.           “Ya, tunggu sebentar!” teriakku dari dalam. “Eh…Tiara, silakan masuk!” “Terima kasih, Mutia”, jawab Tiara sembari masuk ke dalam rumahku.     ...

Asmaradhana

Gambar
Asmaradhana.... Asmaradhana.... Pantas saja Asmara membara-bara sebab apinya dikobarkan tiada terkira Asmaradhana.... Asmaradhana.... Api Asmara tengah mencari peraduannya tengah menanti Jumbuhnya Rasa Dirasa pada Kekasihnya Duhai,  Asmaradhana.... Asmaradhana.... Kendalikanlah Dahana itu agar tidak membakarmu atau pun mendinginkanmu Asmaradhana.... Asmaradhana.... Tetkala membesar kau pasti kewalahan  tetkala mengecil akan kau rasakan kepiluan dan kehampaan : hidup tanpa sayang bersayang Asmaradhana.... Asmaradhana.... Jadikan ia pelita  untuk menggapai kekasihmu tercinta hingga jumbuh kepercayaan hingga tumbuh kecocokan untuk selanjutnya : kau Azzam -kan perjanjian suci : sehidup semati lantas, pahit manis hidup ini harus kau jalani berdua-duaan dengan Kekasihmu : Pilihan Tuhan Asmaradhana.... Asmaradhana.... Kau tercinta.... #Mojowarno, 4 Juni 2020.

Cerita Midha

Anak Buruh Tani Jadi Dosen Oleh : Nur Fitriani Ramidha Nafisya Akbar, ya, itulah nama seorang gadis cantik jelita yang berasal dari sebuah desa. Dia merupakan anak dari pasangan suami istri yang bekerja sebagai buruh tani. Fisya, begitu biasanya ia dipanggil, merupakan anak yang selalu bersemangat dalam menuntut ilmu. Meskipun berasal dari keluarga yang kurang mampu, tidak menyurutkan semangatnya dalam meraih cita-cita. Saat ini, Nafisya sedang menempuh perkuliahan di Universitas Indonesia. Suatu hari, setelah pembelajaran di kelas selesai, Nafisya segera beranjak pulang. Ia menenteng tas berwarna coklat yang dibeli di pasar dekat rumahnya minggu lalu. Baru saja Nafisya keluar dari kelas, ia dipanggil kembali untuk menuju ke ruang dekan. “Fisya, kamu belum membayar uang semester ya? Kalau kamu tidak membayar, nanti tidak boleh ikut ujian”, kata Pak Dekan sesampainya Nafisya di ruangan. Nafisya menjawab dengan kebingungan, “Tapi Pak, saya belum punya uang untuk membayar, tolon...

Sebuah Celoteh

Sedulur Papat, Limo Pancer “...Marmarti yang mengasuh saudara-saudaraku menggelorakan Amarah bagaikan api, merabuk Lawwamah bagaikan tanah, menjernihkan Supiah bagaikan air, dan mengembuskan Mutmainnah bagaikan napas.” Di desa ini aku memiliki sedulur papat, limo pancer adalah aku, karena akulah yang merasa dan mensubyeki hidupku. Sedulur papatku juga subyek atas hidup mereka masing-masing, namun dalam hal ini aku membuat prinsip hidup merekalah sedulur papatku yang mungkin bisa bekerja sama membangun hidup makrokosmosku. Mereka adalah : 1)      Didin, selaku Amarah, dia suka dengan Rahwana, dia itu orangnya kaya raya dan suka dengan kemewahan, dia juga suka dengan kesejahteraan dan kemakmuran. Dia itu cocok sebagai Amarah, sehingga aku perlu mengelolanya agar dia bisa jadi api yang menggeloran dan menghangatkan semua orang. 2)      Herpin, selaku Lawwamah, dia suka dengan Kumbakarna, dia itu orangnya suka makan dan pesta kebersamaan, ...

Pidato Kemerdekaan

INDONESIA? Assalamualaikum wr. wb Pekik Merdeka : Merdeka! (Tangan diangkat setinggi bahu sambil dikepalkan) Saudara-saudara sebangsa dan setanah air Salam sejahtera dan salam merdeka untuk kita semua! “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya,” pesan Bung Karno pada salah satu pidatonya. Ya, masuk akal memang isi dari pesan Bung Karno tersebut. Kewibaan, kebesaran, dan kehormatan suatu negara linear dengan sikapnya terhadap pahlawan negara. Seperti budaya Indonesia, yang mana kaum muda lebih hormat kepada orang tua atau kaum tua. Maka sikap menghargai pahlawan merupakan implementasi dari kebudayaan Indonesia itu sendiri. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Para pahlawan telah berjuang mati-matian, mengorbankan waktu, tenaga, harta benda, bahkan nyawa mereka demi merebut kemerdekaan. Siang malam adalah waktu perjuangan, hujan mortir adalah makanan keseharian, desingan peluru adalah musik harian, ceceran darah pemandangan kese...

Merayakan Hujan

Anak Hujan-hujanan Saat guyuran hujan datang anak-anak tak sabar berhamburan Menerobos hujan dan menari kegirangan menyukuri rizki Tuhan Anak hujan-hujanan Janganlah dilarang apalagi dikekang Kegembiraannya terpuaskan dengan hujan-hujanan Begitu riang, menari, memutar badan, menikmati anugerah Tuhan Anak hujan-hujanan Biarlah menikmati sensasi basah-basahan atau sekadar duduk termangu di bawah tetesannya Mengamati kodok bernyanyi dan lalat kedinginan Bisa jadi satu diantara mereka tumbuh besar dan menjadi penyair yang akan menyadarkanmu bahwa kegembiraan hujan hanya ada di waktu kecil ketika hujan-hujanan Karena setelah dewasa kau dan mereka akan memaki hujan, ketika kehujanan PWT, 22/11/2016

Sebentuk Puisi Hari Ayah

Air Mata Bisu Ayahku Karya : Masuzi Fajar menyingsing Kau panggul cangkul seraya merapihkan caping Seseruput demi seseruputan kopi legam penghangat badan kau hajar tuk bekal ke sawah ladang Cericit pipit menari di atas pepadian menemani ayunan kakimu menyibak petak persawahan             Embun yang membasahi setiap helai daun             menyapa betis kokohmu menuju ladang tempatmu berjuang             Fajar yang merekah itu             Membuatmu mempercepat langkah menuju sawah             Bekerja mencangkul tanah menyiangi rerumputan basah Ayah…. Kau sosok segalanya bagiku Laparmu adalah kenyangku Sakitmu adalah senangku saat kau pangul di pundakmu Ayah…. Suatu malam itu kumend...

Puisi Lomba Cimanuk Indramayu

Orkestra Hujan Oleh : Masuzi Ramadhani Kricik…kricik…kricik…kricik…kricik…. Gemericik air menuruni genting di malam syahdu nan merdu ini Syahdu karena begitu merdu konser hujan ini Merdu karena begitu syahdu orkestra hujan di malam ini Gemericik air menuruni genting menghunjam keras ke bawah menghancurkan batu kedholiman meluluhkan kerikil kemunafikan hingga menjadi tanah iman yang tertancap kuat di kalbu setiap insan Gemericik air menuruni genting menginsafkan kita akan pesan dari Sang Rahiim tentang cinta kasih yang ditebar tak pilih kasih pada siapapun yang tersayang Gemericik air menuruni genting membawa kehidupan bagi makhluk yang kehausan makhluk-makhluk yang haus akan kasih sayang-Nya makhluk-makhluk yang haus akan belaian-Nya makhluk-makhluk yang haus akan keridhoan-Nya Gemericik air menuruni genting Pertanda, Cinta Tuhan tak henti-hentinya ditebar Sayang Tuhan tak henti-hentinya disebar Kasih Tuhan tak habis-habisnya ...